Insya Allah (1)

“Sungguh, Kami telah menguji mereka (orang musyrik Mekah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah pasti akan memetik (hasil)nya pada pagi hari, tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan berucap, ‘Insya Allah’). Lalu kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur”. (QS.Al-Qalam 17-19)

Mungkin karena terlalu percaya diri, maka sebagian orang jarang sekali mengucapkan ‘insya Allah’ kala mengungkapkan optimismenya. Padahal ucapan ‘insya Allah’ kala mengungkapkan sesuatu yg akan datang sangat urgen bagi seorang mukmin, bahkan bisa dikatakan dharuri. Artinya, kita akan hancur kalau tidak mengucapkan kata ‘insya Allah’. Seharusnya ucapan ‘insya Allah’ kita jadikan sebagai karakter, budaya, dan gaya berbicara yang membedakan kita dengan yang lainnya.

Allah berfirman dalam surat Lukman ayat 34, “Tidak ada yang bisa tahu pasti apa yang akan diperolehnya esok hari” . Artinya hanya Allah yang tahu pasti apa yang akan terjadi esok, sehingga kata ‘insya Allah’ sangat penting dan menjadi wajib digunakan pada saat kita mengatakan sesuatu yang akan datang.

KISAH PERTAMA

Berikut ini adalah kisah yang menggambarkan betapa urgen dan dharurinya ucapan ‘insya Allah’ bagi seorang mukmin.

Dalam hadits riwayat Bukhari Muslim, dikisahkan bahwa suatu hari, Nabi Sulaiman a.s berkata, “malam ini aku akan menyetubuhi 60 atau 70 isteriku sehingga mereka hamil. Lalu, setiap isteriku melahirkan seorang anak lelaki yang akan menjadi mujahid penunggang kuda fisabilillah.” Namun, Nabi Sulaiman a.s lupa mengucapkan ‘insya Allah’.

Malam itu, Nabi Sulaiman a.s berhasil menyetubuhi 60 atau 70 isterinya, tetapi yang hamil hanya salah satu isterinya. Dan saat melahirkan, anak yang dilahirkannya tidak sempurna fisiknya, dia hanya berupa badan saja. Dalam riwayat lain, dia hanya sebelah manusia saja.

Rasulullah SAW bersabda, “Kalau saja nabi Sulaiman AS mengucapkan ‘insya Allah’ , niscaya mereka (anak-anaknya) akan berjihad di jalan Allah sebagai penunggang kuda semuanya.” (HR Bukhari Muslim)

( Insya Allah, bersambung ke KISAH KEDUA….Salam Ikhlas! )

————————————————————————————————————————————

Salam ikhlas!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Assalamu’alaikum Admin saya mau tanya...
Powered by